Rabu, 28 Juli 2021

WUJUDKAN  GENERASI  EMAS

INDONESIA  KUAT

Oleh : Nunung Lusiana Margawati,SPd.,MPsi.

Guru BK  SMP Negeri IV Kota Madiun



         Peran remaja jaman now sebagai fondasi  dan pilar untuk mewujudkan “Generasi Emas Indonesia Kuat”. Generasi emas Indonesia Kuat terwujud sebagai produk remaja jaman now  yang mampu menyikapi secara positif pengaruh pesatnya perkembangan tehnologi dan pengetahuan  yang ditandai dengan berbagai ancaman dan tantangan.                 Ancaman dan tantangan yang harus dihadapi para renaja mau tidak mau adanya  perkembangan tehnologi komunikasi  yaitu  gadget. Disatu sisi gadget tercipta sebagai alat untuk mempermudah komunikasi  tanpa harus tatap muka dan dapat  mengakses informasi yang lain dengan mudah.  Sedangkan disisi lain hadirnya gadget membawa juga pengaruh negatif remaja jaman now  melalui  akses internet yang menyajikan pesan  negatif  yang menyebabkan remaja terjerumus kenakalan  jaman now. Sebenarnya    gadget   tidak    hanya menimbulkan  dampak negatif  bagi remaja, karena juga membawa  dampak positif, diantaranya dalam pola pikir remaja  yaitu mampu membantu remaja dalam mengatur kecepatan berpikir  dan  mengolah strategi dalam melaksanakan kegiatan. Akan tetapi dibalik dampak positif   tersebut lebih dominan pada dampak negatif yang berpengaruh terhadap perkembangan remaja.Salah satunya  selain memotivasi perilaku menyimpang adalah radiasi dalam gadget dapat merusak jaringan syaraf dan otak remaja bila remaja sering menggunakan gadget. Selain itu, juga dapat menurunkan daya aktif remaja dan kemampuan remaja untuk berinteraksi dengan orang lain. Remaja menjadi lebih individual dengan zona nyamannya bersama gadget sehingga kurang memiliki sikap peduli terhadap teman bahkan orang lain yang ada disekitarnya.

         Sedangkan masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik . Masa remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting ditandai dengan adanya rasa ingin tau atau mulai tertarik dan ingin coba-coba. Sedangkan tugas-tugas perkembangan masa   remaja  yang harus dilaksanakan adalah memperoleh sejumlah norma – norma dan nilai – nilai positif, belajar memiliki peran sosial sesuai dengan jenis kelamin masing– masing , mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep – konsep tentang kehidupan bermasyarakat, serta memiliki konsep – konsep tentang tingkah laku sosial yang perlu untuk kehidupan bermasyarakat.  

             Media Internet melalui gadget sebagai salah satu pemicu ancaman dan tantangan yang harus dihadapi  remaja jaman now.  Salah satu kelemahan media internet yang paling nyata mudah diakses dan merusak  adalah  item-item asusila yang tak bermoral  . Media  pertemanan pun dipergunakan untuk saling berbagi item-item tak bermoral maupun pemicu perkelahian.  Bahkan di berbagai   daerah pernah ditemukan kasus banyaknya anak mulai usia dini sampai remaja terlibat perilaku  tak bermoral  atau  asusila   sampai berujung pernikahan dini. Para remaja menjadi lupa waktu, bahkan sampai membolos sekolah untuk mengakses game on line maupun film porno bahkan coba-coba untuk mempraktekkan , hal ini menunjukkan  gejala  perilaku  kenakalan  pada  remaja. Media  internet  mempunyai peranan yang sangat penting dan berpengaruh terhadap kenakalan remaja, yang memicu timbulnya perilaku dursila seperti: perkelahian; bullying, perkataan kotor, kasar, dan tidak senonoh; penipuan, pemalsuan identitas, perkosaan, pelecehan seksual, membolos sekolah, dan berbohong kepada orang tua.

              Sedangkan  dampak  negatif  gadget melalui media internet  dalam perkembangan moral dapat terjadi karena adanya kesempatan dan kemudahan untuk mengunduh isi situs secara  illegal tanpa ijin. Berkaitan dengan hal ini banyak orangtua yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak melanggar norma bahkan mungkin memberikan hukuman bila anaknya melakukan pelanggaran. Namun ironisnya, bila hal tersebut dilakukan dengan perangkat gadget  (contohnya mengunduh secara illegal baik lagu atau film porno dengan berbagai cara), maka punishment dari orangtua sering dan bahkan tidak pernah diterapkan.

           Sedangkan faktor-faktor yang memotivasi terjadinya kenakalan remaja, menurut  Sigmund  Freud  dalam Sudarsono (2015), mengemukakan bahwa sebab utama dari perkembangan tidak sehat, ketidak mampuan menyesuaikan diri, dan kriminalitas  remaja  terjadi karena adanya  konflik-konflik mental, rasa tidak dipenuhi kebutuhan pokoknya seperti rasa aman, dihargai, bebas memperlihatkan kepribadian dan lain-lain.

          Oleh karena itu remaja di jaman now diharapkan mampu menjauhkan diri dan terbebas dari segala ancaman dan tantangan negatif yang dapat merusak pribadi khususnya serta dapat merusak bangsa pada umumnya. Pengaruh negatif dari penyalah gunaan gadget menjadi wabah yang tidak hanya merusak pribadi remaja tetapi menghancurkan sebuah generasi penerus bangsa.  Remaja sebagai pondasi generasi penerus bangsa dituntut dapat memanfaatkan gadget secara  positif dan menjauhkan diri dari unsur-unsur yang dapat merusak  dirinya secara pribadi dan merusak bangsa secara umum. Remaja jaman now  diharapkan  dapat  membangun sikap disiplin, taat aturan, punya kemauan yang tinggi untuk berprestasi, jujur,bertanggung jawab dan jauh dari sikap negatif yang menghancurkan masa depan. Walaupun kecil,hal-hal seperti inilah yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi remaja sebagai Generasi Emas Indonesia Kuat.

          Solusi untuk mewujudkan generasi emas Indonesia kuat dapat ditempuh melalui tiga upaya, yaitu tindakan  preventif , yang dapat dilakukan dilingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat; Fungsi keluarga disini sebagai fungsi pemeliharaan yaitu berupa kewajiban berusaha melindungi anak dari berbagai ancaman dan tantangan  .  Keluarga diharapkan dapat memberi suri tauladan  dan  mampu  menciptakan  rumah ramah anak sehingga anak merasa nyaman dan dapat berkembang secara positif sesuai tugas-tugas perkembangan.

                Selain peran keluarga  tentunya  peran pendidik,  masyarakat dan pemerintah tetap memegang  andil.      Sedangan tindakan kuratif  ; memblokir situs-situs porno maupun game on line dan menyediakan sarana dan prasarana untuk mengisi waktu luang serta  mengadakan   sosialisasi  pembinaan khusus untuk memperbaiki sikap maupun  tingkah laku remaja yang menyimpang sehingga mereka kembali memperoleh kedudukannya yang layak di tengah-tengah masyarakat dan berfungsi secara wajar; serta  pembinaan agama yang difokuskan pada ketaatan menjalankan  ibadah  sesuai  norma maupun etika dalam agama dan menjahui semua larangan agama.

               Tidak dapat dipungkiri  ancaman dan tantangan di depan  mata khususnya  bagi remaja sebagai generasi muda kita sedang menghantui. Oleh karenanya  para remaja kita perlu mengalami  perubahan atau  revolusi dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam menyikapi perkembangan tehnologi  maupun pengetahuan serta cara berpikir dan berperasaan  berdasarkan atas nurani yang tercermin pada perilaku mereka. Jadi perlu ada perubahan cara berpikir, berperasaan  dan bertindak secara positif sehingga remaja  tersebut dapat berperilaku sejalan dengan norma yang berlaku dan hati nuraininya. Dibutuhkan terjadinya revolusi mental tidak hanya berupa  keadaan sehat dan normal serta bebas dari penyakit melainkan  sehat secara fisik dan psikis maupun sosial serta mampu menyikapi ancaman dan tantangan di jaman now secara positif  sehingga tercapainya tujuan  yang diharapkan

                    Perilaku remaja yang tidak selektif dalam pengunaan gadget menimbulkan keresahan dan ancaman bagi bangsa. Menyadari begitu  strategisnya  peran dan fungsi yang melekat pada remaja diharapkan sebagai generasi penerus bangsa memilki motivasi yang kuat dan di latih agar dapat bertingkah laku menurut  norma agama maupun norma  sosial yang diakui dan mampu mengelola  emosi, percaya diri , mampu mengenal diri sendiri luar dalam. Tidak hanya  bentukan fisik atau kecerdasan secara intektual melaikan kecerdasan secara emosional dan spiritual penting untuh diasah serta diterapkan.

              Pada akhirnya berbagai persoalan yang dihadapi remaja di jaman now sebagai generasi penerus bangsa  merupakan tanggung jawab semua pihak bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan maupun keluarga. Keluarga dan lembaga pendidikan  sebagai pondasi dasar perlu  bersinergi  dengan para pihak terkait. Tanggung jawab  “Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Kuat” tidak bisa  seenaknya  hanya  dibebankan ke salah satu pihak tertentu saja. Pemerintah dalam hal ini juga wajib andil melalui kewenangannya menutup situs-situs yang membahayakan masa depan remaja serta menggalakkan perilaku teladan yang sehat dan produktif, kreatif bagi setiap elemen masyarakat. Sehingga tercipta masyarakat dan generasi muda Indonesia yang jujur,bertanggung jawab, amanah, adil, konsisten berpikir positif , dewasa , disiplin, taat beribadah serta berinisiatif, bekerja keras, bersemangat, mandiri, peduli sosial, cinta tanah air, cinta  damai, demokratis,  visionir ( berpikir jauh ke depan ), menghargai waktu dan tercapainya tujuan .

              Remaja sebagai fakta historis generasi penerus bangsa menjadi salah satu bukti pionir dalam mewujudkan “ Generasi Emas Indonesia Kuat “. Sedangkan pendidikan adalah  kunci produk manusia yang terdidik, dicetak, dikerjakan berjalan ke arah visi misi yang sudah disepakati secara nyata mulai bahu membahu untuk menghasilkan  generasi emas indonesia kuat secara intelektual, matang secara emosi, dan terpenuhi secara spiritual. Ketika kecerdasan itu mampu bersinergi dalam setiap pikiran, hati dan perilaku  generasi muda, maka masa depan Indonesia sebagai  negara yang kuat, megah, dan bermartabat tentu bukan lagi sekadar angan-angan tapi akan terwujud ‘Generasi Emas Indonesia Kuat”.

 

Daftar Pustaka :


Hurlock, Elizabeth B. (2015). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.

Sofyan S. Willis. (2012).  Remaja dan Masalahnya Mengupas Berbagai bentuk Kenakalan Remaja

seperti Narkoba, Freesex dan Pemecahannya. Bandung : CV Alfabeta.

Zulkifli L. (2014). Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Yusuf Syamsu. (2014).  Psikologi Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Kartini Kartono. ( 2014). Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 

Nashih Ulwan, Abdullah. (2014. Pendidikan Anak Menurut Islam (Pemeliharaan Kesehatan Jiwa

  Anak). Bandung : PT. Rosda Karya. 

Setiawan, T. (2015).  Internet Untuk Anak: Panduan Wajib bagi Orang Tua, Yogyakarta: A ‘Plus Book

Sudarsono. ( 2015). Kenakalan Remaja,  Jakarta: PT Rineka Cipta.

 


Senin, 30 Maret 2020

BIMBINGAN KLASIKAL KLAS 9 SMPN 4 KOTA MADIUN


                MOTIVASI   BERPRESTASI
  Berprestasi adalah idaman setiap individu, baik itu prestasi dalam bidang pekerjaan, pendidikan, sosial, seni, politik, budaya dan lain-lain. Dengan adanya prestasi yang pernah diraih oleh seseorang akan menumbuhkan suatu semangat baru untuk menjalani aktifitas. 

   Pengertian motivasi berprestasi didefinisikan sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain maupun prestasi sendiri. Kebutuhan untuk berprestasi menurut McClelland  adalah suatu daya dalam mental manusia untuk melakukan suatu kegiatan yang lebih baik, lebih cepat, lebih efektif, dan lebih efisien daripada kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya. Ini disebabkan oleh virus mental. Virus mental tersebut merupakan suatu fikiran yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan baik, lebih cepat lebih efisien dibanding dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya

     Dari pendapat tersebut Alex Sabur mengartikan bahwa  dalam psikis manusia, ada daya yang mampu mendorongnya ke arah suatu kegiatan yang hebat sehingga dengan daya tersebut, ia dapat mencapai kemajuan yang teramat cepat. Daya  pendorong tersebut dinamakan virus mental, karena apabila berjangkit di dalam jiwa manusia, daya tersebut akan berkembang biak dengan cepat. Dengan kata lain, daya tersebut akan meluas dan menimbulkan dampak dalam kehidupan.


  McClelland juga berpendapat tentang motivasi berprestasi. McClelland dan Atkinson menyebutkan   ”Setiap orang mempunyai tiga motif  yakni motivasi berprestasi (achievement motivation), motif bersahabat (affiliation motivation) dan motif berkuasa (power motivation)”. Dari ketiga motif itu dalam penelitian ini akan difokuskan pada motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi dapat untuk bekerja dan belajar.

    Menurut  McClelland dan Atkinson bahwa ”Achiement motivation should be characterzed by high hopes of success rather than by fear of failure” artinya motivasi berprestasi merupakan ciri seorang yang mempunyai harapan tinggi untuk mencapai keberhasilan dari pada ketakutan kegagalan. Selanjutnya dinyatakan McClelland bahwa ”motivasi berprestasi merupakan kecenderungan seseorang dalam mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku untuk mencapai suatu standar prestasi”. Pencapaian standar prestasi digunakan oleh siswa untuk menilai kegiatan yang pernah dilakukan. Siswa yang menginginkan prestasi yang baik akan menilai apakah kegiatan yang dilakukannya telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

  Ahli lain yakni Gellerman menyatakan bahwa orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan sangat senang kalau ia berhasil memenangkan suatu persaingan. Ia berani menanggung segala resiko sebagai konsekwensi dari usahanya untuk mencapai tujuan. Sedangkan motivasi berprestasi menurut Tapiardi adalah sebagai suatu cara berfikir tertentu apabila terjadi pada diri seseorang cenderung membuat orang itu bertingkah laku secara giat untuk meraih suatu  hasil atau prestasi.

  Dari pendapat di atas dapat di pahami bahwa dengan adanya motivasi berprestasi dalam diri individu akan menumbuhkan jiwa kompetisi yang sehat, akan menumbuhkan individu-individu yang bertanggung jawab dan dengan motivasi berprestasi yang tinggi juga akan membentuk individu menjadi pribadi yang kreatif.

 Motivasi berprestasi atau achievement motivation merupakan suatu dorongan yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih cepat, lebih efisien dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya, sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain maupun prestasi sendiri

  McClelland mengemukakan bahwa ada 6 karakteristik individu yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi, yaitu :

1) Perasaan yang kuat untuk mencapai tujuan, yaitu keinginan untuk
     menyelesaikan tugas dengan hasil yang sebaik-baiknya.
2) Bertangungjawab, yaitu mampu bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan             menentukan masa depannya, sehingga apa yang dicitacitakan berhasil tercapai.
3) Evaluatif, yaitu menggunakan umpan balik untuk menentukan tindakan yang
    lebih efektif guna mencapai prestasi,kegagalan yang dialami tidak membuatnya
    putus asa, melainkan sebagai pelajaran untuk berhasil.
4) Mengambil resiko “sedang”, dalam arti tindakan-tindakannya sesuai dengan
    batas kemampuan yang dimilikinya.
5) Kreatif dan inovatif, yaitu mampu mencari peluang-peluang dan menggunakan
    kesempatan untuk dapat menunjukkan potensinya
6)Menyukai tantangan, yaitu senang akan kegiatan-kegiatan yang bersifat prestatif            dan kompetitif.


 McClelland   menyatakan bahwa orang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi, adalah sebagai berikut :  

a.  Mempunyai tanggung jawab pribadi.
Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi akan melakukan  tugas sekolah atau bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Siswa yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan akan  puas dengan hasil pekerjaan karena merupakan hasil usahanya sendiri.

b.  Menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan.
Siswa menetapkan nilai yang akan dicapai. Nilai itu lebih tinggi  dari nilai  sendiri (internal) atau lebih tinggi dengan nilai yang dicapai oleh orang lain (eksternal). Untuk mencapai nilai yang sesuai dengan  standar keunggulan, siswa harus menguasai secara tuntas materi pelajaran.

c.   Berusaha bekerja kreatif.
Siswa yang bermotivasi tinggi, gigih dan giat mencari cara yang kreatif untuk menyelesaikan  tugas sekolahnya. Siswa mempergunakan beberapa cara belajar yang diciptakannya sendiri, sehingga siswa lebih menguasai materi pelajaran dan akhirnya memperoleh prestasi yang tinggi.
  
d. Berusaha mencapai cita-cita
Siswa yang mempunyai cita-cita akan berusaha sebaik-baiknya dalam belajar atau mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar. Siswa akan rajin mengerjakan tugas, belajar dengan keras, tekun dan ulet dan tidak mundur waktu belajar. Siswa akan mengerjakan tugas sampai selesai dan bila mengalami kesulitan ia akan membaca kembali bahan bacaan yang telah diterangkan guru, mengulangi mengerjakan tugas yang belum selesai. Keberhasilan  pada setiap kegiatan sekolah dan memperoleh hasil yang baik akan memungkinkan siswa mencapai cita-citanya.

e.   Memiliki tugas yang moderat.
Memiliki tugas yang moderat yaitu memiliki tugas yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Siswa dengan motivasi berpretasi yang tinggi, yang harus mengerjakan tugas yang sangat sukar, akan tetapi mengerjakan tugas tersebut dengan membagi tugas menjadi beberapa bagian,  yang tiap bagian lebih mudah menyelesaikanya.
  
f.  Melakukan kegiatan sebaik-baiknya
Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi akan melakukan semua kegiatan  belajar sebaik mungkin  dan tidak ada kegiatan lupa di kerjakan. Siswa membuat kegiatan belajar dari mentaati jadwal tersebut. Siswa selalu mengikuti kegiatan belajar dan mengerjakan  soal-soal latihan walaupun tidak disuruh guru serta memperbaiki tugas yang salah. Siswa juga akan  melakukan kegiatan belajar jika ia mempunyai buku pelajaran dan perlengkapan belajar yang dibutuhkan dan melakukan kegiatan belajar sendiri atau bersama secara berkelompok.

g.  Mengadakan antisipasi.
Mengadakan atisipasi maksudnya melakukan kegiatan untuk menghindari kegagalan atau kesulitan yang mungkin terjadi. Antisipasi dapat dilakukan siswa dengan menyiapkan semua keperluan atau peralatan sebelum  pergi ke sekolah. Siswa datang ke sekolah lebih cepat dari jadwal belajar  atau jadwal ujian, mencari soal atau jawaban untuk latihan. Siswa menyokong persiapan belajar yang perlu dan membaca materi pelajaran  yang akan di berikan guru pada hari berikutnya.